Beberapa Studi Psikologi Media Sosial untuk Marketing



Hal yang saya suka tentang media sosial adalah karena dari sisi media komunikasi, hal ini bersifat baru tapi penggunaannya begitu masif dan berpengaruh banyak terhadap perubahan pada beragam bidang & situasi. Banyak hal eksperimentatif yang bisa kita lakukan. Kita bisa coba-coba melakukan ujicoba sesukanya lalu mengambil pelajaran dari kasus-kasus praktek penggunaan media sosial yang pernah dilakukan.


Media sosial sedikit banyak telah merubah cara kita berhubungan sosial & berbagi informasi satu dengan yang lainnya. Setiap harinya selalu ada kasus-kasus baru yang bisa dipelajari. Berikut ini adalah kumpulan studi yang bisa kita pelajari untuk lebih memahami kebiasaan orang-orang di media sosial. Yuk langsung saja...

1. Membatalkan Diri untuk Lakukan Posting & Berinteraksi

Kadangkala kita memiliki perasaan untuk melakukan sesuatu yang kreatif dan mengekspresikannya lewat medium tertentu. Tapi ketika kita ingin mengekspresikannya, kadangkala perasaan ini dapat berubah dan memilih untuk membatalkan diri karena terpikir satu dan lain hal. Hal ini ternyata dapat juga terjadi pada perilaku kita di media sosial. Dua orang periset bernama Sauvik Das dari Carnegie Mellon University & Adam Kramer yang bekerja sebagai periset di Facebook melakukan sebuah studi tentang ini yang disebut dengan Study on Self-Censorship. Sebuah studi tentang postingan di Facebook yang batal di-submit oleh penggunanya.

Dalam 17 hari, mereka menjelajahi aktifitas dari 3.9 juta pengguna. Selama 17 hari tersebut, 71 persen pengguna menulis minimal 1 status atau komentar yang akhirnya memilih untuk dibatalkan. Secara rata-rata mereka melakukan hal tersebut pada 4.52 status & 3.2 komentar.


Periset Facebook tersebut menyimpulkan bahwa mereka memilih membatalkan diri dikarenakan mereka merasa audiensnya sulit didefinisikan dan terlalu beragamnya orang-orang yang ada di Facebook yang menyebabkan hal ini terjadi. Keasingan atau ketidakakraban tersebut ternyata dapat membuat seseorang batal melakukan posting/berinteraksi.

Pelajaran: Kenalilah lebih dekat audiens kita di media sosial sehingga kita bisa berkomunikasi dengan mereka dengan lebih baik. Bangun persona atau identitas dirimu di media sosial untuk memahami audiens kamu dengan lebih baik. Tapi harus ingat pada prinsip "Karena kamu tidak selalu mendengar audiens kamu di media sosial, bukan berarti mereka tidak memperhatikan kamu".

2. Emosi Mudah Menjalar di Media Sosial

Emosi pada hubungan antar orang dapat menjalar dalam situasi kontak langsung. Tapi apakah emosi juga dapat menjalar dalam hubungan antar orang pada medium media sosial? Apakah ketika kita berteman di media sosial dengan kebanyakan orang yang memiliki ekspresi emosi negatif pada akun mereka dapat mempengaruhi emosi kita sendiri?

Satu grup periset dari University of California melakukan riset berkaitan dengan hal ini. Riset ini dikabarkan adalah salah satu riset terbesar yang pernah dilakukan untuk subjek topik ini. Mereka menggunakan software untuk memantau konten emosional dari 1 milyar postingan di Facebook dalam 2 tahun, khususnya pada musim hujan ketika postingan negatif lebih memiliki kesempatan muncul lebih tinggi.

Dengan menggunakan data catatan cuaca, mereka bisa memantau dan menyimpulkan bahwa emosi negatif dapat tertransmisikan lewat Facebook kepada orang-orang yang hari-harinya sedang tidak dilanda hujan. Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa apa yang dirasakan & dikatakan oleh seseorang di satu titik tempat dapat menyebar ke berbagai belahan dunia pada momen waktu yang sama lewat media sosial.

Kesimpulan yang sama juga terjadi pada studi yang dilakukan oleh Facebook. Facebook melakukan hal serupa namun dengan pendekatan yang berbeda. Ketika Facebook menghapus postingan dengan nada positif yang ada di news feed di 680.000 pengguna, hasilnya  para pengguna tersebut membuat postingan positif lebih sedikit dibanding postingan negatif. Ketika postingan negatif dihapus, para pengguna lebih banyak yang mem-posting postingan positif.

Pelajaran: Berbagilah hal-hal yang positif dan munculkan suasana kegembiraan untuk mendukung hubungan yang positif antara kita dan teman/audiens di media sosial. Jikapun kita harus merespon feedback negatif, lakukan dengan pendekatan positif.

3. Bagaimana Kita Menilai Karakter Berdasarkan Foto Profil

Sebuah studi yang dilakukan dua orang dari Princeton University menyimpulkan bahwa sebagian besar dari kita dengan cepat (40 milidetik) menyimpulkan tentang karakter seseorang berdasarkan foto profil yang terpajang pada akun media sosialnya.

Para periset mengambil foto berbagai wajah orang dengan tingkat pencahayaan yang sama namun dengan ekspresi wajah yang berbeda. Mereka lalu melakukan survey secara online dan menanyakan kepada partisipan untuk memberikan penilaian karakteristik seperti daya tarik, kompetensi, kreativitas, kekejaman, kepercayaan, dan kecerdasan.


Hasil penelitian ini menunjukan bahwa walaupun terdapat variasi kecil dalam ekspresi wajah pada foto profil kita di media sosial, hal tersebut dapat menyebabkan perubahan persepsi orang dalam menilai karakter seseorang.

Pelajaran: Detil itu vital. Sebaiknya lakukan dulu A/B testing pada foto profil wajah kita sebelum memutuskan untuk memasangnya di akun social media kita. Hal ini sangat berguna untuk kita yang ingin memasang foto profil pada media sosial untuk kebutuhan profesional seperti LinkedIn.

4. Sebagian Besar Dari Kita Berbagi Secara Selektif, Tapi Berbeda di Setiap Negara. Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut salah satu riset yang dilakukan Ipsos, Hampir 1/4 pengguna media sosial berbagi tentang 'apapun' secara online. Sekitar 19% tidak berbagi sama sekali.

Washington Post mencatat bahwa ada hubungan yang sangat jelas antara 'oversharing' dan penetrasi internet. Umumnya yang oversharing berasal dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin, dimana penetrasi internet masih rendah; sedangkan hampir seluruh negara yang terhitung sebagai 'undershare' berasal dari Eropa & Amerika.


Pelajaran: Jika melihat data diatas, Indonesia menempati posisi ke-3 dimana terdapat kesempatan bagi para pemasar untuk memanfaatkan behaviour ini. Cari & buat konten yang relevan dengan demografi audience kita.

Mempelajari psikologi di balik media sosial itu menarik. Kita bisa belajar dan memperbaiki apa yang sudah kita lakukan dari hasil studi-studi tersebut diatas. Hasil studi ini bisa sangat berguna untuk bidang apapun dari mulai marketing hingga politik. Tentunya masing-masing dari kita bisa mengambil pelajaran yang berbeda. Nah, dipersilahkan untuk berbagi di kolom komentar di bawah ini tentang apa saja takeaways yang kamu dapetin?

Post a Comment