Catatan Utama dari Mozcon 2016

Mozcon adalah salah satu konferensi digital marketing tahunan terbesar di US yang umumnya dihadiri para praktisi SEO yang antusias datang dari seluruh dunia. Tahun 2016 ini, Mozcon dihadiri oleh lebih dari 1.500 orang. Tahun ini saya mendapat kesempatan istimewa menjadi peserta konferensi ini di Seattle.

Agenda Mozcon umumnya cukup bervariasi. Dari 26 presentasi, topik bahasan memang didominasi tema-tema technical SEO, content, links, & cross-device UX, tapi juga ada beberapa topik bahasan seputar branding, PR, A/B testing, & content marketing, tapi tetap memiliki tendensi yang fokus membahas SEO.

Dari sisi konten, konferensi ini sangat niche dan memang bukan konferensi marketing yang conventional. Maka untuk yang masih baru di dunia digital marketing, khususnya SEO, akan menemukan banyak hal baru. Saya menemukan banyak pemaparan dari para pembicara berkelas dengan kualitas wawasan SEO yang luar biasa.

Pada tulisan ini saya mencoba untuk merangkum poin-poin utama dari beberapa pemaparan para pembicara di konferensi Mozcon 2016 ini. FYI, bukan hal yang mudah merangkum semua materi dalam satu artikel, mungkin saya akan coba lebih reguler di tulisan selanjutnya me-decompress beberapa materi yang saya anggap worth to share.

Pahami karakter benak manusia; pahami pelangganmu dan Google...

Sebagai mesin pencari yang telah mendikte begitu banyak dari apa yang kita lakukan, kemana kita pergi, serta apa yang kita pikirkan, tingkat kecanggihan mesin Google semakin meningkat. Maka dari itu diperlukan strategi yang canggih juga untuk menang di SEO.

Google memiliki tujuan untuk menjadi perusahaan 'machine learning first' yang didsaarkan pada tujuan untuk meniru fungsi otak manusia. Dengan demikian, hal ini bisa kita jadikan pijakan yang cukup jelas dalam memahami kemana dunia SEO ini akan menuju. Buat yang sudah pernah mempelajari RankBrain mungkin sudah paham soal ini.

Google machine learning first company

Concepts over Keywords 

'Concepts over keywords' menjadi ungkapan yang populer di sini dan dapat dimengerti kalau ini akan menjadi bahan diskusi utama dalam dunia SEO kedepannya. Google melatih mesinnya untuk meniru fungsi ini dan dengan demikian lebih dekat dalam memberikan kita hasil yang kita inginkan, lebih cepat, bahkan lebih cepat dari query diketikan oleh kita. *_*

Namun, arah menuju "concepts over keywords" ini prakteknya cukup rumit dalam industri SEO. Trend search ini telah tertanam seperti juga perjalanan pengguna yang terintegrasi dalam situs kita, jadi akan menjadi sebuah pekerjaan yang tidak mudah untuk melakukan ini dari awal lagi.

Sebagian besar dari kita memulai belajar soal SEO dengan mempelajari keyword research, one keyword at a time. Kita mengoptimasi halaman kita untuk keyword tersebut dengan menempatkannya di title tag, di headline, beberapa ditaruh di body copy, dan mungkin disimpan di alt text pada foto/gambar.

Seringkali juga sebagian besar dari kita mengoptimasi sebuah halaman dengan lebih dari satu keywords. Blah blah!

Faktanya, cara mengoptimasi halaman web dengan single keywords tidak cukup efektif untuk jangka panjang.

'Konten' haruslah memiliki esensi yang lebih tinggi dari itu.

Perbedaan masa kini dibanding tahun-tahun sebelumnya adalah adanya pergeseran dari 'invidual keywords' ke 'concepts'. Ya! inilah yang dinamakan '├žoncepts over keywords'. Konsep berkaitan dengan search marketing lewat 3 hal utama:
    • Maksud Pengguna
      • Search engine mencoba untuk lebih memahami apa yang pengguna cari/tanyakan dengan merelasikan pertanyaan tersebut dengan 'konsep'. Jika saya mencari "film tentang harimai di perahu", Google kemungkinan akan mengerti bahwa saya bertanya tentang Life of Pi, bukan lagi mengenai halaman web yang diptimasi untuk keywords yang spesifik mengenai itu.
    • Apa yang dimaksudkan oleh konten kita
      • Google membaca keywords di halaman web kita untuk mencoba dan menyimpulkan apa isi konten kita secara konseptual. 
    • Mengaitkan 'konsep' satu dengan yang lainnya
      • Knowledge Graph memberikan gambaran kepada kita bagaimana Google merelasikan konsep dengan yang lainnya. Pada kasus Life of Pi, ini mungkin menunjukan bagaimana film terelasikan dengan ratings, reviews, aktor, penulisnya, dan para pemerannya.
    Untuk memulai proses ini dengan riset untuk kategori atau industri tertentu, Moz Keyword Explorer layak untuk diulik. Tahap implementasi selanjutnya adalah membangun hirarki situs kita dengan ide-ide yang dibangun atas dasar tersebut di atas.

    Joe Hall memberikan beberapa petunjuk terkait ini:

    Tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan sebuah situs untuk tumbuh secara organik melalui konsep-konsep yang saling terkait, tanpa menjadi seperti sebuah situs yang 'tambal-sulam' atau membangun internal link yang tidak wajar untuk menjaga semuanya tetap dalam satu kesatuan.

    Dengan anjuran dari Joe Hall ini, kita bisa terlebih dahulu mendefinisikan setiap konten dalam sections yang terpisah. Dari situ kita bisa mengembangkan internal linking secara organik yang bisa kita tempatkan pada navigasi sekunder. Dengan konsep ini kita bisa mengembangkan dan mengubahnya secara berkelanjutan.

    Links masih penting

    Links masih menjadi kekuatan pendorong di balik SERP ranking. Namun, taktik lama dengan outreach tactics sama sekali tidak efektif. Namun, langkah-langkah yang efektif masih sama pada tingkat konseptual.



    Marketer yang cerdas meluangkan waktu mereka pada penelitian dan produksi konten, mereka memastikan link mereka ditujukan ke pengguna konten yang benar-benar ingin membacanya. Google menilai clickstream data lebih cerdas dari sebelumnya, sehingga setiap upaya untuk "mengelabui algoritma' jatuhnya jadi percuma.

    Pendekatan ini jauh dari mudah, dan framewok dari Moz's Flywheel untuk mendapatkan link berkualitas tinggi secara berkelanjutan kurang lebih seperti ini:





    Pengguna mobile bukanlah pengguna mini-desktop

    'Mobile-first' tidak selalu jadi jalan terbaik dalam sebuah strategi dan ini butuh kerja keras lebih untuk menjadikannya berdampak. Pola pikir mobile users seringkali berbeda dengan seorang desktop users dan ini tidak hanya terbatas seperti apa sebaiknya kita menyusun konten di website kita. Opsi untuk menelepon, pin atau menyimpan untuk dibaca di lain waktu adalah beberapa hal yang bisa dikostumisasi untuk mobile, dan hal ini perlu diukur untuk setiap halaman website.

    Akibatnya, kemampuan dan perangkat UX memiliki nilai penting dalam industri SEO. Sampai kita bisa menerima penuh pergeseran ini, konversi antara mobile & desktop tetap akan berbeda berbeda.

    Jangan takut untuk bereksperimen

    SEO memang industri yang bergerak lambat. Kita melakukan riset, merencanakan, dan kita mengumpulkan data berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum bisa menyimpulkan dan bisa yakin betul tentangnya.

    Tapi tidak harus seperti itu.

    Sebelum merilis arsitektur website baru, kita bisa mencoba untuk fokuskan pada satu bagian dari website kita. Kita bisa mencoba format konten baru pada bagian tersebut terlebih dahulu. Cobalah dapatkan link melalui situs-situs media seperti, Slideshare, Reddit atau Vimeo.

    Kuncinya adalah untuk menetapkan ekspektasi yang sesuai dan memastikan kita belajar dari percobaan kita. Berhasil atau gagal, itu urusan nomor 2.

    Native & Web App Indexing

    Topik ini memang sedang hangat akhir-akhir ini. Mungkin hal yang membuat topik ini menarik karena secara historis crawlers itu terkunci dari beberapa mobile content. Sampai pada akhirnya crawlers mulai melakukan crawling javascript dan mulai semakin membaik dalam memahami konten.

    Dengan demikian mereka mulai melakukan crawling dan indexing Android apps, lalu iOS apps menyusul. Pada dasarnya crawling dan memetakan apps ini mirip dengan website, bahkan bisa dikatakan lebih mudah & cepat untuk dilakukan. Kini Google bisa melakukan app indexing.

    Ada 2 tipe Apps:
    • Web Apps & Native Apps
      • Web Apps bisa diakses lewat internet langsung
      • Native Apps harus didownload dulu, sehingga bisa bekeja ketika offline
    • Progressive Web Apps (PWA) rely on javascript & AJAX (asynchronous javascript & XML)
      • Ini artinya hanya content yang dibutuhkan yang akan muncul
      • Ketika user membutuhkan lebih, konten akan muncul secara asynchronous.
    PWA pada dasarnya adalah online native app. Format apps ini sangat cepat. Mereka menempatkan layer di tengah di antara server dan website. Format apps ini melakukan pre-rendering dan pre-caches semua hal-hal yang berat untuk membuat aplikasi ini seamless. Hal ini  disebut dengan "service worker".



    (tulisan masih dalam progress...)


    Berikut beberapa suasana Mozcon 2016:













    Post a Comment